Rabu, 30 Juni 2010

BAPENK tentang arti kedewasaan

Sebuah Hal kecil Namun Berarti Perjalanan Hidup Bapenk Yang tak luput Dari Salah , Khilaf Dan Dosa tak Dipungkiri...
Namun Sejalan Dengan Dewasanya pemikiran Hal-hal yang tak berguna Sedikit demi sedikit mulai pudar...
Disini bapenk ingin Membahas tentang Pemikiran Yang Dewasa..
Karena dizaman yang semakin Canggih dan mulai mutakhir ini manusia kadang masih kekanak-kanakan.
Coba kita perhatikan digedung DPR RI saja tempat Orang-orang terhormat masih banyak sikap & prilaku Anak TK yang dilakukan...
bukankah mereka orang-orang yang dipilih untuk mewakili Aspirasi Rakyat ,
Tapi mengapa mereka melakukan prilaku yang tak seharusnya...
maka dari Itu Bapenk disini Membahas tentang pendewasaan diri...
DEWASA adalah proses Pergantian massa dari massa Anak-Anak Menuju Dewasa yang lebih mengerti Hal-hal yang Baik dan Hal-hal yang buruk dalam kehidupan sehari-hari...
lebih memahami Lingkungan Disekitar.
Serta kondisi Sekitarnya...
Pendewasaan diri tak begitu saja datang Namun dari diri sendiri ada kemauan untuk lebih Dewasa.,
misalkan dapat serta mampu menahan emosi ketika sedang marah.,
Menghadapi masalah dengan kepala dingin
Bertutur kata yang sopan kepada siapapun,kapanpun dan dimanapun.
Menjadi tua itu pasti, menjadi dewasa itu pilihan...

Seseorang dikatakan dewasa bukan karena dia telah mencapai umur
tertentu.
Terkadang, ada orang yang umurnya sudah tua tapi ada yang mengatakan
perilakunya masih kekanak-kanakan. Ada juga, seseorang yang
tergolong masih
muda, tapi ada juga yang mengatakan dia itu seorang yang dewasa.
Fenomena
keseharian ini memperlihatkan bahwa umur tidak memberikan jaminan
seseorang
itu mampu mencapai kedewasaan. Lantas, kedewasaan itu apa sih..?.

Kedewasaan itu sangat terkait dengan urusan mentalitas
(psikologis). Cara
yang paling mudah untuk mengukur kedewasaan adalah ketika seseorang
itu
dihadapkan kepada permasalahan-permasalahan yang ada. Nanti, saya
akan
memaparkan sebuah kisah kehidupan seseorang yang begitu tegar
menghadapi
masalah. Kisah itu, bagi saya sangat mengharukan, saya sempat
menitikkan air
mata mengetahui cerita itu. Entah, saya barangkali tak sanggup
bertahan
ketika menghadapi masalah yang sama seperti yang dialami seseorang
itu. Dari
kisahnya, saya hanya ingin mengajak untuk mencoba jujur terhadap
diri kita
masing-masing. Apakah kita sudah dewasa ataukah belum..? Mengenai
cerita
itu, sabar ya, tunggu saja nanti !

Kita lanjutkan dulu uraian tentang topik "masalah". Dalam
mengarungi
samudera kehidupan ini, kita pasti dihadapkan kepada sebuah masalah.
Itulah
dinamika yang membuat hidup menjadi bermakna. Rasa-rasanya, hidup
ini akan
terasa gersang jika tak ada dinamika kehidupan, hidup hanya monoton,
tak ada
pernak-perniknya, sungguh, hidup ini tak terasa indah. Tapi,
permasalahannya
kemudian, sejauhmana kita bisa memandang sebuah masalah dengan cara
pandang
yang berbeda, sebuah cara pandang menggunakan kejernihan berpikir
kita. Kita
semua tahu, permasalahan akan senantiasa ada, yang terpenting adalah
bagaimana kita bersikap ketika menghadapi masalah tersebut.
Disinilah sebuah
kedewasaan akan terlihat.

Akankah kita hanya sekedar mengeluh mensikapi masalah yang kita
hadapi,
menyalahkan orang lain sebagai biang masalah dan bahkan menganggap
Allah SWT tidak
adil karena menimpakan masalah yang barangkali terlalu berat, atau
kita akan
bersikap sebaliknya. Kita mensikapi sebuah masalah dengan tenang,
tidak
emosional lantas pelan-pelan memikirkan jalan keluar yang tepat.
Bagaimana
menurutmu, kira-kira akan memilih yang mana...?

Baik, sambil merenung, saya akan memenuhi janji.

Seperti yang saya janjikan diawal tadi, saya akan bercerita
tentang
sebuah kisah nyata. Kisah ini pernah saya baca di dalam sebuah
majalah
Islam. Sudah cukup lama saya membacanya, sampai-sampai majalah itu
entah
kemana. Tapi, memori saya masih terus mengingat kisah itu. Kisahnya
adalah
tentang seorang pemuda yang sederhana, dia seorang mahasiswa. Suatu
ketika, dia
sedang kekurangan uang. Dia pernah tidak makan nasi selama 24 hari
karena
uangnya tidak cukup untuk membeli nya. Barangkali ada yang bertanya,
bagaimana dia bisa bertahan hidup...?.

Setiap hari, dia hanya menganggarkan uang seribu rupiah untuk bisa
menganjal perutnya dari rasa lapar. Setiap pagi, dia membeli
sepotong roti
seharga limaratus rupiah untuk bisa bertahan dari rasa lapar di siang
harinya. Begitu juga, ketika sore tiba, dia melakukan hal yang sama,
membeli
lagi sepotong roti seharga lima ratus rupiah untuk bisa bertahan
dari rasa
laparnya sampai esok pagi tiba. Begitu seterusnya, sampai 24 hari
lamanya.
Sungguh, kisah ini sangat mengharukan. Saya sempat menitikkan ari
mata
ketika membacanya. Luar biasa, dia tak mengeluh dengan keadaan yang
menimpa
dirinya.

Dia tak mau meminjam uang karena dia tak mau merepotkan temannya.
Justru,
dengan keadaan seperti itu, tak menyurutkan langkahnya untuk bisa
berprestasi. Itu terbukti ketika dia terpilih menjadi salah satu
remaja
berprestasi versi salah satu majalah Islam di negeri ini. Dan,
kisahnya ini diungkapkan
dalam sebuah wawancara dengan majalah Islam itu.

Ada satu lagi cerita menarik darinya. Ketika akan diundang dalam
acara
penganugerahan hadiah, terpaksa dia meminjam baju salah seorang
temannya
karena memang dia benar-benar tidak mempunyai baju yang layak untuk
menghadiri sebuah acara yang boleh dibilang resmi. Subhanallah.

Cerita ini bisa menjadi renungan bagi kita. Terkadang, kita terlalu
banyak
mengeluh atas keadaan yang kita alami, sementara kalau kita
menghitung
nikmat yang telah Allah berikan kepada kita, sungguh, tak akan bisa
terhitung banyaknya. Tapi, biasanya, kita terus merasa kurang dan
kurang.
Seolah kita lupa atas segala nikmat yang telah Allah berikan kepada
kita.
Laki-laki sederhana itu bisa kita jadikan contoh, bagaimana dia
senantiasa
tersenyum walau dalam keadaan yang sederhana, bahkan boleh dibilang
kekurangan.

Baginya, keadaan yang seperti itu tak terlalu menjadi masalah.
Setidaknya,
dia tidak menganggap kebahagiaan semata-mata karena banyaknya harta
yang
dimiliki. Lelaki itu, semoga menjadi pelajaran kita dan kelak,
semoga Allah
memasukannya kedalam surgaNya. Darinya, kita bisa mengambil
pelajaran, bahwa
kedewasaan itu adalah, bagaimana kita bisa mengatasi permasalahan
dengan
bijaksana. Sekarang, mari sama-sama kita jujur pada diri kita
sendiri, sudah
dewasakah kita...?.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar